Luas Panen Jagung Pipilan November 2025 Naik 10 Persen, Produksi Tembus 1,03 Juta Ton


Kinerja subsektor tanaman pangan kembali menunjukkan tren positif pada akhir tahun 2025. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, luas panen jagung pipilan pada November 2025 tercatat sebesar 0,16 juta hektare. Angka ini mengalami kenaikan sekitar 0,01 juta hektare atau 10,09 persen dibandingkan luas panen pada November 2024 yang sebesar 0,14 juta hektare. Peningkatan ini menandakan semakin luasnya area tanam jagung yang berhasil dipanen oleh petani.

Bertambahnya luas panen tersebut berdampak langsung pada peningkatan produksi jagung nasional. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada November 2025 diperkirakan mencapai 1,03 juta ton. Jumlah ini naik sekitar 0,05 juta ton atau 5,32 persen dibandingkan produksi jagung pada November 2024 yang sebesar 0,98 juta ton. Kenaikan produksi ini menunjukkan bahwa produktivitas lahan jagung tetap terjaga, meskipun pertumbuhan produksinya tidak setinggi kenaikan luas panen.

Jagung pipilan merupakan salah satu komoditas strategis dalam sistem pangan nasional, terutama sebagai bahan baku pakan ternak dan industri pengolahan. Oleh karena itu, peningkatan luas panen dan produksi jagung pipilan pada November 2025 menjadi sinyal positif bagi ketersediaan pasokan jagung di dalam negeri. Stabilnya pasokan jagung diharapkan dapat membantu menjaga harga pakan ternak serta mendukung keberlanjutan usaha peternakan dan industri turunannya.

Selain mencermati kondisi aktual, data juga menunjukkan potensi panen jagung pada periode mendatang. Potensi luas panen jagung pipilan pada Desember 2025 diperkirakan mencapai 0,17 juta hektare, dengan potensi produksi sekitar 1,08 juta ton jagung pipilan kering. Sementara itu, untuk periode Januari–Februari 2026, potensi luas panen diperkirakan jauh lebih besar, yakni mencapai 0,53 juta hektare, dengan potensi produksi sekitar 3,14 juta ton.

Potensi panen yang cukup besar pada awal tahun 2026 ini menunjukkan bahwa pasokan jagung nasional diperkirakan tetap terjaga. Kondisi ini menjadi peluang penting bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk mengelola distribusi dan cadangan jagung secara lebih baik, sehingga fluktuasi harga dapat dikendalikan dan kebutuhan industri tetap terpenuhi.

Kenaikan luas panen jagung pipilan sebesar 10 persen pada November 2025 mencerminkan kinerja positif subsektor jagung di Indonesia. Dengan dukungan cuaca yang relatif mendukung, perbaikan teknik budidaya, serta peran aktif petani, peningkatan ini diharapkan dapat berlanjut pada periode berikutnya. Ke depan, pengelolaan produksi dan distribusi yang efektif akan menjadi kunci untuk memastikan jagung tetap menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan dan perekonomian nasional.

Posting Komentar

0 Komentar